Sunday, June 18, 2006

Tiada Hari Tanpa Militansi

Militansi? Mungkin banyak orang yang mearasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini.
Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh rnasyarakat,apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Sorikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “kotidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam miIitan’.yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap rnelakukan aksi “bunuh din”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?

Bagi seorang muslim yang baik, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.
Islam jelas merupakan agama rahmat. tapi untuk menjammn terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang mndah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah tertampakkan tanpa adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dari para ‘pelukisnya’ Di sinilah arti pentingnya militansi bagi seorang muslim. Mllitansi yang kita maksud di sini adalah jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat),dhawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Kalau begitu, tentu saja tidak ada masalah dengan militansi, karena itu memang diperintahkan oleh Islam sekaligus dibutuhkan untuk menegakkan nilai-nilainya di rnuka bumi. Tanpa militansi, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, rahmat, keadilan, serta keindahan sejati tidak mungkin terwujud dengan baik.

Militansi yang harus tumbuh pada diri setlap aktlvis da’wah adalah seperti militansi yang pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya. Militansi Nabi SAW dan para sahabat adalah militansi yang seimbang dan pertengahan. Ia bisa berbentuk ketegasan terhadap musuh, tapi lembut terhadap saudara seiman. Ia adalah ketegasan sikap yang tidak mengabaikan akhlak yang mulia. Ia adalah teguran yang keras untuk meluruskan kesalahan, sebagaimana Nabi SAW menegur sahabatnya ketika khilaf, menyakiti perasaan saudaranya. Namun, ia juga merupakan kecintaan yang mendalam serta perbuatan yang menyenangkan, sebagairnana Nabi SAW bendiri ketika jenazah seorang Yahudi sedang diusung. Jadi seorang muslim yang militant berkomitmen pada Islam dan mengetahui bagaimana la harus bersikap dan berbuat sesuai dengan tuntunan Islam.

Militansi menuntut totalitas. dalam penerimaan dan pelaksanaan seluruh nilai-nilai serta amaliah Islam. Ini seperti Umar bin Khattab yang memusuhi Nabi sangat pada masa pra-keimanan, komudian membela Nabi sangat setelah berjumpa hidayah. Militansi menuntut kesungguhan dalam berjuang, seperti seorang sahabat yang membuang kurma-kurmanya di Perang Radar karena tak sabar menanti syahid. Militansi memungkinkan munculnya vlsi yang sangat kuat, seperti Anas bin Nadzar yang sudah mencium wangi surga ketika menginjakkan kakinya di peperangan Uhud, atau seperti para sahabat yang “melihat” surga dan neraka ketika tengah duduk di majelisnya Rasulullah SAW. Militansi akan melahikan motivasi nan tinggi, seperti Amr bin Jamuh yang tetap ngotot pergi ke medan jihad dengan satu kakmnya yang pincang.

Militansi mengharuskan adanya konsistensi, seperti jihadnya Abu Awub yang tidak kenal Ielah kendati sudah tua usia, atau seperti amal seorang guru Imam Hanafi yang meninggal dunia tatkala shalat. Militansi mewajibkan kesabaran, seperti sabarnya Awub AS menanggung sakit, atau sabarnya Nuh AS benda’wah ratusan tahun. Militansi menggambarkan semangat, seperti semangat para tabi’in yang merantau ke bebenapa negeri hanya untuk mencari sebuah hadits, atau sepenti semangat belajar Imam Thabar dan Al-Biuni yang masih bendiskusi agama bebenapa detik sebelum meninggalnya. Militansi berasal dan keyakian yang dalam, seperti keyakinan Abu Bakar setiap saat pada “sahabatnya” tanpa perlu pembuktian rasional apa pun, atau seperti Abu Dzar yang meyakini janji Nabi tentang dirinya tanpa perlu membuktikannya secara langsung.

Militansi juga berarti keberanian, seperti keberanian lbn Mas’ud membaca Al-Qur’an depan musyrikin Qunaisy hingga dipukul babak belur, atau seperti Khudzaifah yang seketika berdiri untuk mengintai musuh di malam yang gelap tatkala Nabi benkata “Qum I” Militansi juga bermakna ketundukan dan kepasrahan pada Allah seperti ibadahnya Abu Darda yang nyaris melupakan hak-hak diri dan keluarganya, atau seperti infaqnya Abu Bakar dan Abdurnahman bin Auf yang nyaris mengabaikan kebutuhan din dan keluanganya.

Militansi bermakna kecintaan yang mendalam pada Nabi SAW seperti Bilal yang tak sanggup melantunkan adzan setelah wafatnya Nabi, atau seperti Ibn Umar yang berharap tapak-tapak untanya mengenai bekas-bekas tapak unta Nabi dalam setiap penjalanannya. Dan akhirnya, militansi adalah istiqamah di jalan-Nya, sebagaimana istiqamahnya AIi, Salman, dan seluruh sahabat lainnya, yang tak pernah bisa digoda dunia hingga akhir hayatnya. Wa laa tamuutunna ilIa wa antum muslimuun ‘dan janganlah kamu mati melamnkan dalam keadaan muslim’.
Seperti itulah makna militansi bagi seorang muslim sejati, dan terutama bagi seorang aktivis da’wah. Karena itu, ia seharusnya dipegang teguh setiap saat. Ia harus menjadi slogan abadi yang torus mengawal dan menginingi penjalanan hidup seorang aktivis da’wah.
Tiada hari tanpa militansi. [TEAM]