Saturday, January 13, 2007

3 hal untuk Indonesia-Ku

Perjalanan bangsa ini telah bergulir sejak lama, namun sampai detikhari ini perubahan yang signifikan tidak begitu dirasakan oleh rakyatIndonesia.pergantia n pemimpin Indonesia tidaklah berdampak kepadakesejahteraan rakyat Indonesia.dari rezim ke rezim bergulir tapi tetapsaja rakyat menderita,apa sebenarnya yang salah akan fenomena inipadahal Indonesia kurang apa,segala keunggulan alam di miliki olehIndonesia, tapi tetap saja perubahan itu tidak nampak.

Kalau kita coba kaji dari beberapa teori perubahan maka sedikitnya masyarakat Indonesia mesti memiliki 3 hal untuk mencapai peruahan yaitu: keterbukaan, kesiapan untuk berkompetisi dan kemampuan untuk menghargai prestasi orang lain. Tiga hal ini yang mesti kita lakukan kalau Indonesia ingin berubah.sehebat apaun system yang coba digulirkan tidak akan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadapperubahan Indonesia kedepan, coba kita perhatikan apakah ada 3 halyang saya sebutkan tadi melekat pada diri masyarakt Indonesia. Daribanyak hal fenomena yang terjadi kita dapat melihat bahwa masyarakaiIndonesia belum mempunyai 3 hal tadi, ada beberapa indicator yangmenunjukan bahwa masyarakt Indonesia belum siap untuk berubah,kesiapanmasyarakt Indonesia untuk berubah akan terlihat mankala keterbukaan,kesiapan untuk berkompetisi dan kemapuan untuk menghargai prestasiorang itu ada dan sdang berlangsung. Fenomena korupsi,yang telahmendarah daging ini menunjukan ketidak terbukaan itu masih begitusulit untuk di hilangkan,penegakan hokum yang sangat tajam kebawahtapi sangat tumpul keatas itu adalah salah satu parameter masyarakatkita belum mampu utnuk terbuka,kebocoran dana anggaran,penyelewan ganjabat dan banyak hal lain uang menunjukan ketidak terbukaan.

Selanjutnya kalu kita cermati dari berita di televise surat kabar danmedia yang lainnya kita menyaksikan ketidak siapan masyarakat kitauntuk berkompetisi seperti misalnya masalah PILKADA. Kita semuamungkin tahu,banyak diantaranya keberlangsungan pemilihan kepaladaerah itu berkhir di pengadilan. Di jawabarat saja kita cobaperhatikan PIlkada Kota depok, kabupaten bandung itu berakhir dipengadilan hal ini menunjukan bahwa kemapuan masyarakat kita untukmelakukan kompetisi itu sangat rendah,mereka belum bisa legowomenerima kekalahan dan bersikap arif dan tidak sombong dalam menerimakemenangan. kesiapan untuk berkompetisi itu mesti kita tumbuhkembangkan agar masyarakat kita dewasa dalam menghadapi segalakeputusan. Hal yang terakhir yang mesti di miliki masyarakat Indonesia adalah kemampuan untuk mengharfai prestasi dan karya orang lain. Sikapyang ketiga ini pun sulit kita dapatkan di masyarakat kita, budaya copypaste, budya plagiasi masih menghiasi dunia pendidikan kita,budayapembajakan, budaya tidak jujur itu masih banyak menghiasi kebiasaanmasyarakat kita salah satu contohnya misalkan. Di Negara kita VCDbajakan, Program bajakan Windows bajakan marak kita temukan. Belakanganini kasus yang cukup menjadi sorotan adalah pengembalian piala citraoleh kalangan tertentu karena dia merasa bahwa film yang di buatnya banyak mengutip lagu-lagu dari luar negeri. Perubahan di negeri initidak bisa dilakukan ketika belum ada kesiapan dari orang yang akan melakukan perubahan itu.

Allah swt berfirman dalam Al-Quran"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kecualimereka merubah keadaan mereka sendiri." (QS.Ar-Ra'd: 11). Kalau kita bercermin pada firman allah tadi maka bisa dikatakan bahwa Indonesiaakan berubah manakala seluruh masyarakatnya mempunyai kesiapan untukmelakukan perubahan itu. Jadi ketika kesiapan itu belum terwujud makajangan mengharapkan ada perubahan yang signifikan di Negara kita.

Allahu a'lam bishowab
(Purnama-Milis KAM-PUS)

Sunday, June 18, 2006

Tiada Hari Tanpa Militansi

Militansi? Mungkin banyak orang yang mearasa gerah atau takut mendengar kata yang satu ini.
Kata militansi memang Iebih sering dipandang negatif oleh rnasyarakat,apalagi pada hari ini, ketika “perang terhadap terorisme” sedang Iantang-lantangnya digaungkan oleh Amerika Sorikat.. Orang seringkali mengaitkan kata ini dengan “kekerasan”“senjata, “kotidakramahan”, atau “intoleransi” Lebih lagi ketika kata ini disandingkan dengan kata Islam, “Islam miIitan’.yang tergambar mungkin sekelompok pemuda berjanggut lebat sedang mengangkat senjata atau bersiap-siap rnelakukan aksi “bunuh din”. Apakah militansi harus selalu harus diartikan seperti itu?

Bagi seorang muslim yang baik, apalagi bagi seorang aktivis da’wah, militansi mutlak diperlukan. Dan karena hal ini merupakan bagian penting dari keislaman seseorang, kita tentu tidak bisa memaknainya kecuali menurut apa yang dikehendaki oleh Islam itu sendiri.
Islam jelas merupakan agama rahmat. tapi untuk menjammn terwujudnya rahmat di muka bumi tentu dibutuhkan perjuangan serta upaya yang optimal. Islam merupakan agama yang adil, tapi agar keadilan terwujud diperlukan komitmen yang sangat kuat. Islam sudah barang tentu merupakan agama yang mndah, tapi keindahan sejati tidak akan pernah tertampakkan tanpa adanya keseriusan dan kesungguh-sungguhan dari para ‘pelukisnya’ Di sinilah arti pentingnya militansi bagi seorang muslim. Mllitansi yang kita maksud di sini adalah jiddiyah (kesungguhan), hamasah (semangat),dhawabit (disiplin), komitmen, dan istiqamah. Kalau begitu, tentu saja tidak ada masalah dengan militansi, karena itu memang diperintahkan oleh Islam sekaligus dibutuhkan untuk menegakkan nilai-nilainya di rnuka bumi. Tanpa militansi, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, rahmat, keadilan, serta keindahan sejati tidak mungkin terwujud dengan baik.

Militansi yang harus tumbuh pada diri setlap aktlvis da’wah adalah seperti militansi yang pernah dicontohkan oleh Nabi SAW dan para sahabatnya. Militansi Nabi SAW dan para sahabat adalah militansi yang seimbang dan pertengahan. Ia bisa berbentuk ketegasan terhadap musuh, tapi lembut terhadap saudara seiman. Ia adalah ketegasan sikap yang tidak mengabaikan akhlak yang mulia. Ia adalah teguran yang keras untuk meluruskan kesalahan, sebagaimana Nabi SAW menegur sahabatnya ketika khilaf, menyakiti perasaan saudaranya. Namun, ia juga merupakan kecintaan yang mendalam serta perbuatan yang menyenangkan, sebagairnana Nabi SAW bendiri ketika jenazah seorang Yahudi sedang diusung. Jadi seorang muslim yang militant berkomitmen pada Islam dan mengetahui bagaimana la harus bersikap dan berbuat sesuai dengan tuntunan Islam.

Militansi menuntut totalitas. dalam penerimaan dan pelaksanaan seluruh nilai-nilai serta amaliah Islam. Ini seperti Umar bin Khattab yang memusuhi Nabi sangat pada masa pra-keimanan, komudian membela Nabi sangat setelah berjumpa hidayah. Militansi menuntut kesungguhan dalam berjuang, seperti seorang sahabat yang membuang kurma-kurmanya di Perang Radar karena tak sabar menanti syahid. Militansi memungkinkan munculnya vlsi yang sangat kuat, seperti Anas bin Nadzar yang sudah mencium wangi surga ketika menginjakkan kakinya di peperangan Uhud, atau seperti para sahabat yang “melihat” surga dan neraka ketika tengah duduk di majelisnya Rasulullah SAW. Militansi akan melahikan motivasi nan tinggi, seperti Amr bin Jamuh yang tetap ngotot pergi ke medan jihad dengan satu kakmnya yang pincang.

Militansi mengharuskan adanya konsistensi, seperti jihadnya Abu Awub yang tidak kenal Ielah kendati sudah tua usia, atau seperti amal seorang guru Imam Hanafi yang meninggal dunia tatkala shalat. Militansi mewajibkan kesabaran, seperti sabarnya Awub AS menanggung sakit, atau sabarnya Nuh AS benda’wah ratusan tahun. Militansi menggambarkan semangat, seperti semangat para tabi’in yang merantau ke bebenapa negeri hanya untuk mencari sebuah hadits, atau sepenti semangat belajar Imam Thabar dan Al-Biuni yang masih bendiskusi agama bebenapa detik sebelum meninggalnya. Militansi berasal dan keyakian yang dalam, seperti keyakinan Abu Bakar setiap saat pada “sahabatnya” tanpa perlu pembuktian rasional apa pun, atau seperti Abu Dzar yang meyakini janji Nabi tentang dirinya tanpa perlu membuktikannya secara langsung.

Militansi juga berarti keberanian, seperti keberanian lbn Mas’ud membaca Al-Qur’an depan musyrikin Qunaisy hingga dipukul babak belur, atau seperti Khudzaifah yang seketika berdiri untuk mengintai musuh di malam yang gelap tatkala Nabi benkata “Qum I” Militansi juga bermakna ketundukan dan kepasrahan pada Allah seperti ibadahnya Abu Darda yang nyaris melupakan hak-hak diri dan keluarganya, atau seperti infaqnya Abu Bakar dan Abdurnahman bin Auf yang nyaris mengabaikan kebutuhan din dan keluanganya.

Militansi bermakna kecintaan yang mendalam pada Nabi SAW seperti Bilal yang tak sanggup melantunkan adzan setelah wafatnya Nabi, atau seperti Ibn Umar yang berharap tapak-tapak untanya mengenai bekas-bekas tapak unta Nabi dalam setiap penjalanannya. Dan akhirnya, militansi adalah istiqamah di jalan-Nya, sebagaimana istiqamahnya AIi, Salman, dan seluruh sahabat lainnya, yang tak pernah bisa digoda dunia hingga akhir hayatnya. Wa laa tamuutunna ilIa wa antum muslimuun ‘dan janganlah kamu mati melamnkan dalam keadaan muslim’.
Seperti itulah makna militansi bagi seorang muslim sejati, dan terutama bagi seorang aktivis da’wah. Karena itu, ia seharusnya dipegang teguh setiap saat. Ia harus menjadi slogan abadi yang torus mengawal dan menginingi penjalanan hidup seorang aktivis da’wah.
Tiada hari tanpa militansi. [TEAM]